JAKARTA - Memasuki tahun 2026, arah perekonomian Indonesia menjadi perhatian di tengah perubahan global yang terus berlangsung.
Berbagai dinamika internasional diperkirakan masih memengaruhi stabilitas ekonomi dunia. Meski demikian, kondisi domestik dinilai memiliki daya tahan yang cukup kuat.
Otoritas Jasa Keuangan memandang prospek ekonomi nasional tahun 2026 tetap berada dalam jalur yang terkendali. Dinamika global masih menjadi faktor utama yang perlu diantisipasi. Namun, fondasi ekonomi domestik dinilai mampu meredam tekanan eksternal.
Perkembangan geopolitik serta kondisi pasar keuangan global menjadi tantangan yang tidak dapat dihindari. Dampaknya berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi lintas negara. Oleh karena itu, kewaspadaan tetap diperlukan dalam menjaga momentum pertumbuhan nasional.
Dinamika Global dan Dampaknya terhadap Indonesia
Prospek ekonomi tahun 2026 diperkirakan masih akan diwarnai oleh ketidakpastian global. Perkembangan geopolitik menjadi salah satu faktor yang memberi tekanan pada stabilitas politik dan keuangan internasional. Kondisi ini turut memengaruhi arah perekonomian berbagai negara, termasuk Indonesia.
OJK menilai bahwa dinamika global tersebut perlu dicermati secara berkelanjutan. Risiko eksternal dapat memengaruhi aliran modal dan sentimen pasar keuangan. Namun, penguatan kebijakan domestik menjadi kunci dalam menjaga stabilitas nasional.
Di tengah situasi tersebut, Indonesia dinilai memiliki ruang untuk tetap tumbuh. Kebijakan makroekonomi yang terjaga memberikan bantalan terhadap gejolak global. Langkah ini diharapkan mampu menjaga kepercayaan pelaku usaha dan investor.
Kinerja Ekonomi Domestik Tetap Solid
Di tengah ketidakpastian global, perekonomian domestik menunjukkan kinerja yang cukup positif. Pada kuartal III 2025, pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 5,04 persen secara tahunan. Capaian ini mencerminkan daya tahan ekonomi nasional.
Pertumbuhan tersebut didukung oleh aktivitas konsumsi dan investasi yang tetap berjalan. Stabilitas sektor keuangan juga berperan dalam menjaga momentum pertumbuhan. Kondisi ini menjadi sinyal positif menjelang tahun 2026.
Kinerja ekonomi domestik yang solid menjadi modal penting menghadapi tantangan global. Pertumbuhan yang relatif tinggi menunjukkan fundamental ekonomi yang terjaga. Hal ini memberi ruang bagi pemerintah dan otoritas untuk melanjutkan kebijakan pro-pertumbuhan.
Performa Manufaktur dan Perdagangan Eksternal
Memasuki kuartal IV 2025, sektor manufaktur terpantau masih berada dalam fase ekspansif. Aktivitas industri tetap berjalan meski tekanan global belum sepenuhnya mereda. Kondisi ini mendukung kesinambungan pertumbuhan ekonomi nasional.
Kinerja eksternal juga menunjukkan hasil yang positif. Neraca perdagangan Indonesia masih mencatatkan surplus. Hal ini menandakan ekspor tetap mampu menopang perekonomian di tengah perlambatan global.
Surplus neraca perdagangan menjadi indikator ketahanan sektor eksternal. Stabilitas ini membantu menjaga keseimbangan ekonomi nasional. Dengan demikian, risiko dari gejolak eksternal dapat diminimalkan.
Target Pertumbuhan dan Daya Tarik Investasi
Di tengah proyeksi perlambatan ekonomi global, lembaga multilateral memperkirakan pertumbuhan dunia masih berada di bawah rata-rata prapandemi. Risiko fiskal di sejumlah negara utama turut memperbesar tekanan global. Kondisi ini menuntut strategi kebijakan yang adaptif.
Pemerintah sendiri menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 sebesar 5,4 persen. Target ini mencerminkan optimisme terhadap kinerja ekonomi nasional. Proyeksi tersebut dinilai realistis dengan mempertimbangkan kondisi domestik.
Optimisme pertumbuhan ekonomi diharapkan mampu menarik minat investasi. Peningkatan investasi berpotensi mendorong permintaan kredit dan aktivitas usaha. Dengan dukungan stabilitas domestik, prospek ekonomi 2026 dinilai tetap terjaga.