Rupiah

Rupiah Bangkit di Penutupan Pekan, Namun Risiko Global Masih Membayangi

Rupiah Bangkit di Penutupan Pekan, Namun Risiko Global Masih Membayangi
Rupiah Bangkit di Penutupan Pekan, Namun Risiko Global Masih Membayangi

JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah sepanjang pekan ini mencerminkan dinamika pasar yang penuh kehati-hatian. 

Setelah sempat tertekan cukup dalam, mata uang Garuda berhasil menunjukkan pemulihan menjelang akhir pekan. Penguatan ini memberi napas lega, meski risiko global dan domestik masih membayangi.

Di awal pekan, tekanan terhadap rupiah sempat membawa kurs ke level terlemah sepanjang sejarah. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas nilai tukar. Namun, sentimen berangsur membaik seiring masuknya faktor pendukung dari kebijakan dan ekspektasi pasar.

Penutupan pekan menjadi momen penting bagi rupiah untuk mencatatkan penguatan. Perbaikan ini sekaligus menandai respons pasar terhadap sejumlah sentimen positif. Meski demikian, pelaku pasar tetap mencermati potensi tekanan lanjutan.

Performa Rupiah di Pasar Spot

Nilai tukar rupiah di pasar spot berhasil menguat pada penutupan perdagangan akhir pekan. Penguatan tercatat sebesar 0,45 persen hingga berada di level Rp16.820 per dolar Amerika Serikat. Secara akumulatif, rupiah menguat sekitar 0,4 persen sepanjang pekan.

Capaian tersebut terbilang signifikan mengingat tekanan yang terjadi di pertengahan minggu. Rupiah sempat ditutup pada posisi terlemah sepanjang masa di level Rp16.956 per dolar Amerika Serikat. Kondisi ini mencerminkan tingginya volatilitas pasar dalam waktu singkat.

Pemulihan di akhir pekan memberi sinyal adanya perbaikan sentimen jangka pendek. Pelaku pasar mulai merespons faktor penahan tekanan dengan lebih positif. Meski begitu, penguatan ini belum sepenuhnya menghapus risiko lanjutan.

Pergerakan Kurs Jisdor

Selain pasar spot, pergerakan rupiah juga tercermin pada kurs referensi Jisdor. Kurs rupiah Jisdor menguat sebesar Rp64 atau 0,38 persen menjadi Rp16.838 per dolar Amerika Serikat. Dalam sepekan, penguatan Jisdor tercatat sekitar 0,25 persen.

Penguatan ini menunjukkan adanya konsistensi perbaikan di berbagai indikator nilai tukar. Respons pasar terhadap stabilisasi kebijakan moneter turut memengaruhi pergerakan tersebut. Hal ini memberi sinyal bahwa tekanan tidak sepenuhnya bersifat struktural.

Meski menguat, fluktuasi rupiah masih berada dalam rentang yang lebar. Volatilitas tetap menjadi perhatian utama pelaku pasar. Kondisi ini menuntut kewaspadaan dalam pengambilan keputusan ke depan.

Sentimen Kebijakan dan Faktor Domestik

Penguatan rupiah tidak lepas dari keputusan Bank Indonesia menahan suku bunga acuan. Suku bunga dipertahankan di level 4,75 persen dalam rapat kebijakan pertengahan pekan. Keputusan ini dinilai memberikan kepastian bagi pasar keuangan.

Sikap Bank Indonesia yang dinilai kurang dovish turut memberikan sentimen positif. Pasar menilai kebijakan tersebut sebagai langkah menjaga stabilitas nilai tukar. Selain itu, komitmen intervensi juga menjadi faktor penahan volatilitas.

Dari sisi domestik, muncul pula wacana terkait pencalonan figur tertentu dalam struktur bank sentral. Sentimen ini ikut memengaruhi persepsi pasar terhadap arah kebijakan ke depan. Namun, dampaknya dinilai masih bersifat jangka pendek.

Tekanan Global dan Geopolitik

Dari sisi eksternal, pasar global masih dibayangi ketidakpastian geopolitik. Dinamika terkait Greenland menjadi salah satu faktor yang memicu kehati-hatian investor. Ketegangan tersebut berdampak pada pergerakan aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang.

Ketidakpastian global membuat aliran modal cenderung fluktuatif. Investor memilih bersikap selektif dalam menempatkan dana. Kondisi ini membatasi ruang penguatan mata uang seperti rupiah.

Selain geopolitik, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal juga menjadi sorotan. Risiko defisit anggaran yang berpotensi melewati batas tertentu masih membayangi. Faktor ini menjadi sentimen negatif yang belum sepenuhnya mereda.

Prospek Rupiah Menjelang FOMC

Memasuki pekan depan, ruang penguatan rupiah dinilai cenderung terbatas. Minimnya rilis data ekonomi penting mengurangi potensi katalis baru. Fokus pasar pun beralih pada agenda kebijakan global.

Perhatian utama investor tertuju pada hasil rapat Federal Open Market Committee. Meski suku bunga diperkirakan tetap, nada pernyataan bank sentral Amerika Serikat akan dicermati. Isu geopolitik menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pasar.

Penguatan rupiah yang signifikan dinilai sulit terwujud dalam waktu dekat. Tekanan global dan kekhawatiran fiskal masih menjadi hambatan. Rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp16.700 hingga Rp17.000 per dolar Amerika Serikat.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index