BI Dorong Perbankan Tingkatkan Akselerasi Penyaluran Kredit ke Sektor Produktif

Rabu, 28 Januari 2026 | 15:46:18 WIB
BI Dorong Perbankan Tingkatkan Akselerasi Penyaluran Kredit ke Sektor Produktif

JAKARTA - Bank Indonesia mendorong perbankan untuk menyalurkan kredit lebih agresif sebagai upaya akselerasi pertumbuhan ekonomi. 

Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan ketersediaan likuiditas bagi perbankan tetap terjamin. Kebijakan makroprudensial dipastikan longgar agar ekspansi kredit berjalan optimal hingga tahun depan.

BI menargetkan pertumbuhan kredit perbankan pada 2026 di kisaran 8%–12%. Target tersebut akan meningkat pada 2027 menjadi 9%–13%. Realisasi pertumbuhan kredit pada 2025 mencapai 9,69%, lebih rendah dibandingkan 10,39% pada 2024.

Untuk mendorong pencapaian target ini, BI menyiapkan insentif likuiditas bagi bank yang menyalurkan kredit ke sektor prioritas. Bank yang menurunkan suku bunga kredit dengan cepat juga akan mendapat insentif tambahan. Langkah ini diharapkan meningkatkan responsivitas perbankan terhadap kebutuhan pembiayaan sektor riil.

Insentif Likuiditas untuk Perbankan

Otoritas moneter merombak komposisi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) agar perbankan segera menurunkan suku bunga kredit. Total insentif KLM tetap maksimal 5,5% dari Dana Pihak Ketiga (DPK). Komposisi di dalamnya diubah dengan porsi lending channel dikurangi dari 5% menjadi 4,5%.

Sebaliknya, insentif untuk bank yang responsif terhadap suku bunga dinaikkan dari 0,5% menjadi 1%. Bank yang ingin mendapatkan likuiditas maksimal harus menurunkan suku bunga kredit sesuai BI Rate. Strategi ini menyeimbangkan pemberian insentif agar pertumbuhan kredit tidak mengganggu stabilitas keuangan.

Penyediaan likuiditas yang cukup juga memastikan bank tidak mengalami kendala saat menyalurkan kredit. Insentif diarahkan untuk mendukung sektor riil dan prioritas nasional. Pendekatan ini diharapkan mempercepat ekspansi kredit sekaligus menjaga kesehatan perbankan.

Proyeksi Ekonomi Nasional

Target penyaluran kredit sejalan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional. BI memperkirakan ekonomi tumbuh 4,9%–5,7% pada 2026. Pertumbuhan diperkirakan meningkat menjadi 5,1%–5,9% pada 2027.

Inflasi diproyeksikan tetap terkendali dalam target 2,5% plus minus 1%. Stabilitas harga menjadi fokus utama agar daya beli masyarakat terjaga. Kebijakan moneter BI menekankan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas harga.

Ketahanan eksternal Indonesia juga tetap solid dengan cadangan devisa US$156,5 miliar. Kondisi ini memberikan ruang bagi bank untuk menyalurkan kredit tanpa risiko gangguan likuiditas. BI menegaskan pendekatan pro-stability dan pro-growth berjalan seiring.

Pendekatan Pro-Stability dan Pro-Growth

Sisi pro-stability BI difokuskan pada pengendalian inflasi dan stabilitas nilai tukar rupiah. Sementara sisi pro-growth ditempuh melalui suku bunga rendah dan ekspansi likuiditas. Kebijakan makroprudensial longgar memastikan perbankan tetap berani menyalurkan kredit ke sektor riil.

Pendekatan ini diharapkan meningkatkan investasi dan konsumsi masyarakat. Dengan pro-growth yang didukung pro-stability, pertumbuhan ekonomi dapat lebih berkelanjutan. Bank didorong untuk menjadi motor utama penyaluran kredit tanpa mengorbankan stabilitas sistem keuangan.

BI juga mengedepankan strategi koordinasi antara likuiditas dan insentif kredit. Hal ini bertujuan mendorong perbankan menyalurkan kredit ke sektor prioritas nasional. Strategi ini diharapkan menjaga keseimbangan antara pengembangan sektor riil dan ketahanan sistem keuangan.

Harapan BI terhadap Perbankan

Perry menekankan agar perbankan tidak ragu menyalurkan kredit dengan dukungan likuiditas memadai. Bank diharapkan responsif terhadap perubahan suku bunga dan kebutuhan pembiayaan sektor riil. Dengan langkah ini, pertumbuhan kredit dapat mendorong akselerasi ekonomi secara optimal.

Insentif likuiditas dan kebijakan makroprudensial longgar memberikan fleksibilitas bagi bank. Fleksibilitas ini memungkinkan perbankan menyesuaikan strategi kredit tanpa risiko tekanan likuiditas. BI menegaskan seluruh langkah dilakukan untuk mendukung perekonomian dan sektor riil nasional.

Dengan strategi ini, kredit diharapkan menjadi motor pertumbuhan ekonomi. Bank Indonesia memastikan ketersediaan likuiditas selalu memadai. Perbankan dan sektor riil dapat bersinergi mendorong pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.

Terkini