JAKARTA - Harga minyak dunia mencatat kenaikan tajam pada perdagangan terakhir seiring meningkatnya kekhawatiran pasokan global.
Penguatan harga terjadi setelah produksi minyak Amerika Serikat terganggu akibat badai musim dingin ekstrem. Kondisi ini mendorong pelaku pasar kembali mencermati risiko pasokan jangka pendek.
Minyak mentah Brent ditutup menguat signifikan dan menembus kisaran harga yang lebih tinggi. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate juga mengalami kenaikan mendekati tiga persen. Pergerakan ini mencerminkan respons pasar terhadap gangguan infrastruktur energi utama.
Cuaca ekstrem di Amerika Serikat menjadi faktor utama yang mendorong lonjakan tersebut. Badai musim dingin melanda sejumlah wilayah penting penghasil energi. Dampaknya terasa langsung pada produksi dan distribusi minyak nasional.
Produksi Minyak AS Tertekan Cuaca Ekstrem
Analis memperkirakan produsen minyak Amerika Serikat kehilangan hingga dua juta barel per hari. Jumlah tersebut setara sekitar 15 persen dari total produksi nasional. Penurunan terjadi terutama pada akhir pekan saat badai mencapai puncaknya.
Gangguan ini diperparah oleh lumpuhnya jaringan listrik dan fasilitas energi. Infrastruktur yang terdampak membuat proses produksi dan pengolahan tidak berjalan optimal. Situasi tersebut memicu kekhawatiran berlanjutnya gangguan pasokan.
Pelaku pasar menilai risiko jangka pendek cenderung mengarah pada kenaikan harga. Ketidakpastian pasokan menjadi faktor dominan dalam pergerakan harga berjangka. Kondisi cuaca yang belum sepenuhnya membaik menambah tekanan pasar.
Tekanan Ekspor dan Respons Pasar
Selain produksi, ekspor energi Amerika Serikat juga sempat terganggu. Pengiriman minyak mentah dan gas alam cair dari pelabuhan Pantai Teluk turun drastis akibat cuaca ekstrem. Aktivitas ekspor bahkan sempat berhenti sementara sebelum kembali pulih.
Setelah pelabuhan dibuka kembali, volume pengiriman mulai meningkat. Pemulihan berlangsung cukup cepat dan bahkan melampaui rata-rata musiman. Meski demikian, gangguan sebelumnya tetap memberi sentimen ketat pada pasar.
Analis menilai ketidakpastian cuaca masih menjadi risiko utama. Penurunan stok minyak berpotensi terjadi dalam beberapa pekan mendatang. Kondisi ini akan terus diawasi oleh pelaku pasar global.
Gangguan Pasokan dari Luar Amerika Serikat
Di luar Amerika Serikat, pasar juga mencermati situasi pasokan dari Kazakhstan. Ladang minyak terbesar negara tersebut mengalami gangguan akibat kebakaran dan pemadaman listrik. Proses pemulihan produksi berjalan lebih lambat dari perkiraan awal.
Produksi ladang Tengiz diperkirakan belum pulih sepenuhnya dalam waktu dekat. Hingga awal Februari, kapasitas produksi diproyeksikan baru kembali sebagian. Situasi ini membuat pasokan global tetap berada dalam kondisi ketat.
Meski kapasitas pemuatan di terminal ekspor utama telah dinormalkan, pasar tetap berhati-hati. Pemulihan produksi yang lambat menahan tekanan penurunan harga. Pelemahan dolar Amerika Serikat turut memberikan dukungan tambahan bagi harga minyak.
Faktor Geopolitik dan Kebijakan Produksi
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga menambah kekhawatiran pasar. Kehadiran armada militer Amerika Serikat di kawasan meningkatkan risiko konflik regional. Situasi ini menopang harga minyak dalam jangka pendek.
Pernyataan terkait kesiapan militer dinilai mempersempit ruang penurunan harga. Ketegangan antara Washington dan Teheran menjadi perhatian utama investor. Belum adanya perkembangan signifikan dalam konflik Rusia–Ukraina juga turut memengaruhi sentimen.
Sementara itu, OPEC+ diperkirakan akan mempertahankan kebijakan penangguhan kenaikan produksi. Keputusan tersebut akan dibahas dalam pertemuan mendatang. Sikap hati-hati OPEC+ semakin memperkuat persepsi pasar terhadap ketatnya pasokan global.