Investasi Baja Nasional Dorong Daya Saing Industri Manufaktur Dalam Negeri

Kamis, 29 Januari 2026 | 09:37:31 WIB
Investasi Baja Nasional Dorong Daya Saing Industri Manufaktur Dalam Negeri

JAKARTA - Pemerintah terus memperkuat struktur industri logam nasional sebagai fondasi pembangunan ekonomi jangka panjang. 

Salah satu langkah nyata ditunjukkan melalui pengembangan fasilitas produksi baru di sektor baja. Upaya ini diharapkan mampu menopang agenda industrialisasi berkelanjutan dan meningkatkan daya saing nasional.

Industri baja memiliki peran penting dalam mendukung berbagai sektor strategis. Sektor infrastruktur, otomotif, permesinan, hingga energi sangat bergantung pada ketersediaan baja nasional. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas produksi menjadi kunci dalam menjaga stabilitas rantai pasok industri.

Pemerintah menilai penguatan industri baja akan berdampak luas terhadap pertumbuhan ekonomi. Ketersediaan baja yang memadai dapat menekan ketergantungan impor. Langkah ini juga sejalan dengan visi kemandirian industri nasional.

Peran Strategis Baja dalam Pembangunan Nasional

Industri baja nasional dipandang sebagai tulang punggung pengembangan sektor turunan. Baja digunakan secara luas dalam proyek infrastruktur, pengembangan teknologi, dan industri berat. Ketersediaan baja berkualitas mendukung percepatan pembangunan nasional.

Dalam beberapa tahun terakhir, kapasitas produksi baja nasional menunjukkan pertumbuhan signifikan. Produksi baja melonjak hampir 98,5 persen dibandingkan tahun 2019 yang masih berada di level 8,5 juta ton. Capaian ini mencerminkan peningkatan daya saing industri baja dalam negeri.

Pertumbuhan tersebut dinilai sebagai hasil dari berbagai kebijakan strategis. Pemerintah terus mendorong peningkatan kapasitas dan utilisasi industri. Langkah ini bertujuan menjaga momentum pertumbuhan sektor baja secara berkelanjutan.

Kebijakan Strategis Dukung Daya Saing Industri

Untuk menjaga kinerja industri baja, berbagai kebijakan telah dioptimalkan. Kebijakan tersebut mencakup pengamanan perdagangan, penerapan Standar Nasional Indonesia wajib, serta pemberian Harga Gas Bumi Tertentu. Selain itu, pengutamaan penggunaan produk dalam negeri dan insentif fiskal juga terus diperkuat.

Penerapan prinsip industri hijau menjadi bagian dari strategi jangka panjang. Kebijakan ini diarahkan untuk meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan industri baja nasional. Daya saing produk baja dalam negeri diharapkan semakin kuat di pasar domestik dan ekspor.

Pemerintah menilai kombinasi kebijakan ini mampu memperkuat struktur industri baja. Dengan kapasitas yang terus meningkat, industri baja nasional dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri. Pada saat yang sama, peluang ekspor juga semakin terbuka.

Investasi Fasilitas CGL Dorong Hilirisasi

Pembangunan fasilitas Continuous Galvanizing Line 2 menjadi langkah penting dalam penguatan industri antara baja nasional. Fasilitas ini diharapkan mampu memperkuat ekosistem industri dari hulu hingga hilir. Kehadirannya dinilai sejalan dengan arah kebijakan hilirisasi industri nasional.

Fasilitas baru ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas produksi baja lapis. Dengan tambahan kapasitas 250 ribu ton per tahun, produksi nasional akan semakin kompetitif. Kapasitas tersebut melengkapi fasilitas sebelumnya yang telah beroperasi dengan produksi sekitar 500 ribu ton per tahun.

Investasi ini juga memperkuat peran industri antara sebagai penghubung rantai pasok. Industri midstream dinilai krusial untuk mengurangi ketergantungan impor. Tanpa sektor ini yang kuat, ketahanan industri nasional akan sulit terjaga.

Dampak Ekonomi dan Arah Industri Hijau

Selain meningkatkan kapasitas produksi, proyek ini diproyeksikan memberi dampak ekonomi langsung. Investasi lanjutan senilai Rp1,5 triliun diharapkan menyerap sekitar 350 tenaga kerja baru. Kehadiran fasilitas ini juga mendorong pemberdayaan ekonomi lokal di wilayah sekitar.

Penggunaan teknologi pelapisan modern menjadi nilai tambah proyek ini. Teknologi zinc magnesium dan zinc aluminium magnesium mampu meningkatkan usia pakai baja hingga empat kali. Inovasi ini menjadikan fasilitas tersebut sebagai yang pertama di Asia Tenggara.

Penerapan teknologi efisien dan ramah lingkungan mendukung transformasi industri hijau. Upaya ini sejalan dengan target pengurangan emisi dan efisiensi energi. Dengan demikian, industri baja nasional tidak hanya tumbuh secara ekonomi, tetapi juga berkelanjutan.

Terkini